Minggu, 27 September 2009

Hukum Shalat Ied



Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

"Kami menguatkan pendapat bahwa shalat Ied hukumnya wajib bagi setiap individu (fardlu 'ain), sebagaimana ucapan Abu Hanifah[1] dan selainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi'i dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.

Adapun pendapat orang yang menyatakan bahwa shalat Ied tidak wajib, ini sangat jauh dari kebenaran. Karena shalat Ied termasuk syi'ar Islam yang sangat agung. Manusia berkumpul pada saat itu lebih banyak dari pada berkumpulnya mereka untuk shalat Jum'at, serta disyari'atkan pula takbir di dalamnya.

Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa shalat Ied hukumnya fardhu kifayah adalah pendapat yang tidak jelas. [Majmu Fatawa 23/161]

Berkata Al-Allamah Asy Syaukani dalam "Sailul Jarar" (1/315).[2]

"Ketahuilah bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus mengerjakan dua shalat Id ini dan tidak pernah meninggalkan satu kalipun. Dan beliau memerintahkan manusia untuk keluar mengerjakannya, hingga menyuruh wanita-wanita yang merdeka, gadis-gadis pingitan dan wanita haid.

Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak memiliki jilbab agar dipinjamkan oleh saudaranya.[3]

Semua ini menunjukkan bahwa shalat Ied hukumnya wajib dengan kewajiban yang ditekankan atas setiap individu bukan fardhu kifayah. Perintah untuk keluar (pada saat Id) mengharuskan perintah untuk shalat bagi orang yang tidak memiliki uzur. Inilah sebenarnya inti dari ucapan Rasul, karena keluar ke tanah lapang merupakan perantara terlaksananya shalat. Maka wajibnya perantara mengharuskan wajibnya tujuan dan dalam hal ini kaum pria tentunya lebih diutamakan daripada wanita".

Kemudian beliau Rahimahullah berkata :

"Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Ied adalah : Shalat Ied dapat menggugurkan kewajiban shalat Jum'at apabila bertetapan waktunya (yakni hari Ied jatuh pada hari Jum'at -pen)[4]. Sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin dapat menggugurkan sesuatu yang wajib. Dan sungguh telah jelas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus melaksanakannya secara berjama'ah sejak disyari'atkannya sampai beliau meninggal. Dan beliau menggandengkan kelaziman ini dengan perintah beliau kepada manusia agar mereka keluar ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat Ied"[5]

Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam "Tamamul Minnah" (hal 344) setelah menyebutkan hadits Ummu Athiyah :

"Maka perintah yang disebutkan menunjukkan wajib. Jika diwajibkan keluar (ke tanah lapang) berarti diwajibkan shalat lebih utama sebagaimana hal ini jelas, tidak tersembunyi. Maka yang benar hukumnya wajib tidak sekedar sunnah ......"


[Disalin dari buku Ahkaamu Al'Iidaini Fii As Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]
_________
Foote Note
[1]. Lihat "Hasyiyah Ibnu Abidin 2/166 dan sesudahnya
[2]. Shiddiq Hasan Khan dalam "Al-Mau'idhah Al-Hasanah" 42-43
[3]. Telah tsabit semua ini dalam hadits Ummu Athiyah yang dikeluarkan oleh Bukhari (324), (352), (971), (974), (980), (981) dan (1652). Muslim (890), Tirmidzi (539), An-Nasaa'i (3/180) Ibnu Majah (1307) dan Ahmad (5/84 dan 85).
[4]. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah -tatkala bertemu hari Id dengan hai Jum'at- Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : (1 hadits) "Artinya : Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Barangsiapa yang ingin (melaksanakan shalat Id) maka dia telah tercukupi dari shalat Jum'at ...." [Diriwayatkan Abu Daud (1073) dan Ibnu Majah (1311) dan sanadnya hasan. Lihat "Al-Mughni" (2/358) dan "Majmu Al-Fatawa" (24/212).
[5]. Telah lewat penyebutan dalilnya. Lihat "Nailul Authar" (3/382-383) dan "Ar-Raudlah An-Nadiyah" (1/142).




Makna Idul Fitri



Bagi muslim yang diterima puasanya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.

Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti yang pernah disinyalir Nabi Muhamad Saw? Jawabnya, Allahu ‘alam, kita tak tahu sejatinya. Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa selamat hari raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal ‘Âidîn wal Faizîn (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Makna Idul Fitri

Sejak Idul Fitri resmi jadi hari raya nasional umat Islam, tepatnya pada tahun II H. kita disunahkan untuk merayakannya sebagai ungkapan syukur atas kemenangan jihad akbar melawan nafsu duniawi selama Ramadhan. Tapi Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang perbuatan kita selama ini.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany dalam al-Gunyah-nya berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah Swt. Momen mengasah kepekaan sosial kita. Ada pemandangan paradoks, betapa disaat kita berbahagia ini, saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar. Bersyukurlah kita! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Perbedaan mustahiq zakat fitrah dan mal




Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama terkait dengan mustahiq zakat fitrah, apakah sama dengan mustahiq zakat mal atau berbeda?

Yang jelas mereka sepakat bahwa zakat fitrah didistribusikan kepada orang-orang fakir di kalangan kaum muslimin. Nabi saw. bersabda, "Cukupilah mereka agar mereka tidak meminta-minta pada hari tersebut."

Adapun mengenai golongan lainnya mereka berbeda pendapat. Imam al-Kharaqi al-hambali berpandangan bahwa zakat fitrah diberikan kepada orang-orang yang boleh diberi zakat mal." Pendapat serupa dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dengan alasan bahwa keduanya sama-sama berupa zakat sehingga ia juga tercakup dalam ayat 60 surat at-Taubah).

Sementara itu, Syeikhul Islam memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, distribusi zakat fitrah hanya tertuju kepada fakir miskin saja, sementara muallaf dan golongan lainnya tidak. Hal ini dengan mengacu pada sabda Nabi di atas, "Cukupilah mereka agar mereka tidak meminta-minta pada hari tersebut."

Kamis, 24 September 2009

ketentuan zakat fitrah



Ketentuan-Ketentuan Zakat Fitrah1. Besarnya zakat Fitrah adalah 1 sha’ yaitu 2176 gram atau 2,2 Kg beras atau makanan pokok. Dalam prakteknya jumlah ini digenapkan menjadi 2,5 Kg, karena untuk kehati-hatian. Hal ini dianggap baik oleh para ulama.2. Menurut madzhab hanafi, diperbolehkan mengeluarkan zakat Fitrah dengan uang seharga ukuran itu, jika dianggap lebih bermanfaat bagi mustahik.3. Waktu mengeluarkan zakat Fitrah adalah sejak awal bulan puasa Ramadhan hingga sebelum shalat ‘Idul Fitri maka dianggap sedekah sunah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
فَمَنْ أدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Artinya : “Barang siapa mengeluarkan (zakat Fitrah) sebelum shalat (‘Idul Fitri), maka zakatnya sah. Barang siapa mengeluarkannya setelah shalat maka dianggap sedekah sunah.” (HR. Ibnu Majah)

4. Zakat Fitrah boleh dikeluarkan langsung kepada mustahik atau dibayarkan melalui amil zakat.

5. Amil atau panitia zakat Fitrah boleh membagikan zakat kepada mustahik setelah shalat ‘Idul Fitri.

6. Jika terjadi perbedaan Hari Raya, maka panitia zakat Fitrah yang berhari raya terlebih dahulu tidak boleh menerima zakat Fitrah setelah mereka mengerjakan shalat ‘Idul Fitri.

7. Panitia Zakat Fitrah hendaknya mendoakan kepada orang yang membayar zakat, agar ibadahnya selama Ramadhan diterima dan mendapat pahala. Doa yang sering dibaca oleh yang menerima zakat, diantaranya:

آجَرَكَ اللهُ فِيْمَا أعْطَيْتَ وَبَارَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا

Artinya : “Semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu atas apa saja yang telah Allah memberi berkah kepadamu atas semua yang masih ada padamu dan mudah-mudahan Allah menjadikan kesucian bagimu.

”Adapun orang-orang yang tidak boleh menerima zakat ada dua golongan:1. Anak cucu keluarga Rasulullah SAW2. Sanak Famili orang yang berzakat, yaitu bapak, kakek, istri, anak, cucu, dan lain-lain.

8 golongan mustahiq



ZakatAda 8 golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) baik zakat fitrah atau zakat harta, yaitu sesuai dengan firman Allah SWT :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ

عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya : “ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah : 60)Delapan golongan yang berhak menerima zakat sesuai ayat di atas adalah :

1. Orang Fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. Orang Miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.

3. Pengurus Zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpilkan dan membagikan zakat.

4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. Memerdekakan Budak: mancakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6. Orang yang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. Orang yang berjuang di jalan Allah (Sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa fi sabilillah itu mancakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

8. Orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil) yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.



Golongan yang wajib berzakat fitrah





Pertama:

Kewajiban zakat fitrah hanya ke atas orang Islam sebagaimana hadis ‘Abd Allah ibn ‘Umar yang telah dikemukakan sebelum ini: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah … dari kalangan umat Islam.”

Kedua:

Zakat fitrah diwajibkan ke atas orang yang mampu, yaitu memiliki kecukupan yang melebihi keperluannya untuk sehari semalam. Batas ini ditetapkan oleh para ahli fiqih mengingatkan tujuan zakat fitrah adalah untuk memenuhi keperluan orang miskin selama satu hari, yaitu pada 1 Syawal ( Aidil Fitri).

Kecukupan yang melebihi keperluannya adalah sesuatu yang sedia ada di sisinya. Oleh itu tidak perlu menjual harta, barang kemas dan sebagainya untuk mencapai taraf kecukupan.

Ketiga:

Orang-orang yang nafkah hidupnya berada dibawah tanggungan orang lain, maka dia tidak wajib membayar zakat fitrah. Zakat fitrahnya dibayar oleh orang yang menanggung nafkah hidupnya, berdalilkan hadis berikut:


أَنَّ النَبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى مِمَّنْ تَمُونُونَ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah atas anak kecil dan orang dewasa, lelaki dan wanita, dari orang-orang yang kalian tanggung nafkah hidupnya. [Hasan: Dikeluarkan oleh al-Daraquthni dalam Sunannya, hadis no: 2052 (Kitab Zakat al-Fitri) dan dengan sanad yang memiliki perbincangan. al-Albani menilainya hasan berdasarkan jalan periwayatan lain yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi. Rujuk Irwa’ al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar al-Sabil (al-Maktab al-Islami, Beirut, 1985), hadis no: 835]

Siapa dan bagaimanakah kedudukan orang yang di bawah tanggungan tersebut? Syaikh ‘Abd al-Karim Zaidan hafizhahullah telah menghimpun perbincangan para ilmuan dalam persoalan ini dalam karyanya al-Mufashshal fi Ahkam al-Mar’ah wa Bait al-Muslim fi al-Syari‘ah al-Islamiyyah (Muassasah al-Risalah, Beirut, 2000), jld. 1, ms. 455 dan seterusnya. Ia dapat saya ringkaskan seperti berikut:
  1. Suami tidak mampu, isteri tidak mampu. Suami isteri tidak wajib bayar zakat fitrah.
  2. Suami mampu, isteri tidak mampu. Suami membayar zakat fitrah untuk diri dan isterinya.
  3. Suami mampu, isteri mampu (memiliki harta atau bekerjaya). Suami membayar zakat fitrah untuk diri dan isterinya. Akan tetapi zakat tahunan isteri dibayar oleh isteri itu sendiri.
  4. Suami telah menceraikan isteri tetapi masih menanggung nafkahnya. Suami membayar zakat fitrah untuk dirinya dan untuk isteri yang telah diceraikan itu.
  5. Suami tidak mampu (miskin, muflis, kena PHK), isteri mampu. Isteri membayar zakat fitrah hanya untuk dirinya sendiri.
  6. Ibu bapa dan anak tidak mampu. Kesemuanya tidak wajib bayar zakat fitrah.
  7. Ayah mampu, anak tidak mampu. Ayah membayar zakat fitrah untuk anak-anaknya.
  8. Ayah mampu, anak mampu (biasiswa pendidikan, sudah bekerja). Masing-masing membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri.
  9. Ayah tidak mampu, ibu mampu, anak tidak mampu. Ibu membayar zakat fitrah hanya untuk dirinya.
  10. Ibubapa tidak mampu (tua, telah bersara), anak mampu. Anak membayar zakat fitrah untuk diri dan ibubapanya.
  11. Ibu sedang hamil. Tidak wajib membayar zakat fitrah untuk anak yang dikandung. Akan tetapi kebanyakan ilmuwan menganjurkannya berdasarkan tindakan para sahabat. [‘Abd Allah bin ‘Abd al-Rahman al-Bassam – Taudih al-Ahkam min Bulugh al-Maram (Maktabah al-Asri, Mekah, 2003), jld. 3, ms. 375]
  12. Penjaga dan anak yatim piatu tidak mampu. Kesemuanya tidak wajib membayar zakat fitrah.
  13. Penjaga mampu, anak yatim tidak mampu. Penjaga membayar zakat fitrah untuk dirinya dan anak yatim piatu jagaannya itu.
  14. Penjaga mampu, anak yatim piatu mampu (memiliki harta warisan). Penjaga membayar zakat fitrah untuk dirinya dengan hartanya sendiri. Kemudian membayar zakat fitrah untuk anak yatim piatu jagaannya dengan harta anak yatim itu sendiri.
  15. Penjaga tidak mampu, anak yatim piatu mampu. Penjaga tidak wajib membayar zakat fitrah tetapi membayar zakat fitrah untuk anak yatim piatu jagaannya dengan harta anak yatim itu sendiri.

zakat fitrah




Zakat dari sudut bahasa ialah tumbuh dan bertambah. Harta yang dibayar sebagai zakat, ia sebenarnya menumbuh dan menambahkan lagi harta yang dimiliki oleh pembayar tersebut. Fitrah dari sudut bahasa ialah terbelah. Ada pun dari sudut syari‘at, maka Zakat Fitrah ialah harta yang wajib dibayar pada penghujung bulan Ramadhan. Demikian penerangan ringkas dari kamus-kamus bahasa Arab dan kitab-kitab fiqih.

Menarik untuk diperhatikan bahwa istilah Zakat Fitrah hanya dikenal dengan kedatangan Islam. Istilah tersebut tidak dikenal di kalangan bangsa Arab sebelum kedatangan Islam. Justru ia adalah istilah yang khusus untuk Islam, tidak untuk bangsa maupun agama yang lain. [al-‘Aini – ‘Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari (Dar al-Fikr, Beirut, 1998), jld. 6, ms. 573]

Zakat fitrah juga dikenal dengan nama-nama lain, yaitu sedekah fitrah, zakat Ramadhan, zakat puasa, sedekah puasa dan sedekah Ramadhan.

Dalil Zakat Fitrah

‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma berkata:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum ke atas hamba dan orang yang merdeka sama, ada lelaki maupun wanita, anak kecil maupun dewasa dari kalangan umat Islam. Baginda memerintahkan agar ia dibayar sebelum orang ramai keluar menunaikan solat (Aidil Fitri). [Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 1503 (Kitab al-Zakat, Bab kewajipan sedekah fitrah)]
 

My Blog List

Term of Use

Ramadhan Oh Ramadhan Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino